Penghuni neraka menyeru penghuni surga
وَنَادَىٰ أَصْحَابُ النَّارِ‌ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَ‌زَقَكُمُ اللَّـهُ ۚ قَالُوا إِنَّ اللَّـهَ حَرَّ‌مَهُمَا عَلَى الْكَافِرِ‌ينَ ﴿٥٠﴾ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّ‌تْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ فَالْيَوْمَ نَنسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَـٰذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ ﴿٥١﴾و

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُ‌ونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ ﴿٣٤﴾ ي

Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir, (50) (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (51(QS 7 : 50-51)

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (34) (QS 7 : 34)

sebagai Tadzkiroh…..

Gunungan Wayang, Catatan Pengajian Ultah MTYT

gunungan

Di era modern, wayang masih mendapatkan banyak tempat di negara kita. walaupun sudah tidak seperti ketika masa jaya2nya, kini wayang hanya dapat ditemukan di acara-acara hajatan keluarga (tentunya di masayarakat yang banyak menggemari wayang). Dulu di salah satu stasiun TV swasta tiap malam minggu, pernah ada pertunjukan wayang, dalangnya Ki Manteb Sudarsono yang sangat masyhur di Indonesia. Saya sendiri tidak terlalu menyukai wayang, kalaupun ada pertunjukan wayang, pasti rasa bosan akan menyerang. pernah 1 x tetangga mengadakan pertunjukan wayang untuk memeriahkan khitanan anaknya. coba lihat dari dekat, dari jauh, sama bosannya. Hingga ahad kemarin, di Taipei, ketika menghadiri tabligh akbar ultah MTYT (majelis yasin tahlil taipei), saya tertarik untuk mengetahui ceramah dari KH Abdul Rachim Spd. atau yang lebih terkenal dengan sebutan Ki Joko Goro-goro. Beliau terkenal karena memadukan dakwah dan wayang. Tentunya banyak diantara kita yang sedikit banyak mengetahui bahwa Sunan Kalijogo juga menggunakan media wayang untuk menyampaikan dakwahnya.

Buat yang penasaran, bisa lihat-lihat di Youtube, sudah banyak yang upload ceramah-ceramah beliau. secara umum dari yang bisa saya tangkap selama 2 jam mendengarkan ceramahnya, beliau menggunakan wayang untuk menjelaskan filosofi-filosofi wayang, mulai dari dasamuka, yang berwajah menakutkan, hingga 4 punakawan seperti semar, petruk, gareng, lan bagong dalam kacamata Islam. dipadukan dengan ayat Alqur’an dan tausiyah yang menyentuh permasalahan sehari-hari.

Hanya saja, karena waktu yang terbatas, tidak semua wayang yang ditampilkan di panggung, mendapatkan porsi untuk dilakonkan. (kalo melihat wayang betulan, biasanya diadakan semalam suntuk, sementara ini hanya kurang lebih 2jam). Yang menarik, ketika saya mendekati gunungan wayang, karena pengen tahu seperti apa dari dekat, saya pun terperangah melihat gambar-gambar yang ada di gunungan tersebut.

gunungan

kalo kita perhatikan dengan detil, ada 4 macam gambar yang saya perbesar, ada bermacam-macam makhluk yang ada di gunungan tersebut. mulai dari hewan semacam banteng, dan harimau, gambar mitologi seperti setan (pojok kiri atas), hingga betorokolo (hantu dalam mitologi jawa kuno). saya tidak tau pasti apakah semua gunungan wayang bercorak demikian, ato hanya dalam pertunjukan ini saja, dan sayangnya tidak ada / belum ada kesempatan untuk mengbrol langsung dengan beliau. semoga ada kesempatan untuk berbincang mengenai hal ini nanti.

Belajar Bahasa China (學中文)

我叫穆罕德 (Wǒ jiào mù hǎn dé)
這個多少錢 (Zhège duōshǎo qián)

sekelumit percakapan ketika belajar bahasa china di NCU lebih dari setahun lalu. ada keinginan lama untuk menulis tentang bagaimana belajar bahasa. setelah membaca note dari Prof. Fahmi Amhar, makin tertarik untuk menulisnya, lebih tepatnya berbagi pengalaman tentang belajar bahasa.

Menjadi menarik untuk dituliskan, mengingat sekarang sudah akhir semester ke-3 belajar bahasa china. Memang terbersit keinginan untuk mencari pengalaman kerja di Taiwan setelah lulus di sini, namun motivasi utama dari belajar semata-mata karena memenuhi motto blog saya yang saya canangkan bertahun-tahun lalu -__-. “Belajar Bahasa, Pintu Masuk dari Berbagai Macam Ilmu.” yep, saya ingin menguasai salah satu bahasa terbesar yang digunakan umat manusia abad 21. lebih jauh lagi, ingin meningkatkan kemampuan Dakwah Islam dengan belajar bahasa. mengingat kisah tersebarnya Islam melalui berbagai macam wasilah, salah satunya adalah melalui da’i-da’i yang sanggup berdakwah dengan bahasa setempat. Semakin menarik karena selain belajar bahasa china, saya juga berusaha mengembangkan kemampuan bahasa Inggris juga, tentunya karena bahasa tersebut merupakan satu-satunya bahasa yang saya kuasai ketika terbang meninggalkan negeri. Ok, begini ceritanya !!!! Continue reading “Belajar Bahasa China (學中文)”

Satu Menit yang Berharga

repost dari catatan FB

Image

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bagi yang sudah bekerja, pernahkah kita mendapat suatu pertanyaan yang kurang lebih isinya :

“Dulu ketika anda hendak memutuskan bekerja, anda sudah mendapatkan tawaran yang begitu fantastis, bekerja dengan penghasilan 500juta per bulan, tapi anda menyia-nyiakannya dan memilih pekerjaan anda sekarang, kenapa?”

Demikian pula bagi yang masih kuliah, ketika anda ditawari sebuah kuliah di sebuah universitas ternama, yang di sana merupakan tempat berkumpulnya orang-orang hebat yang menjadi sekarang milyuner, tak dinyana, anda lebih memilih kampus yang anda tempati sekarang?

Bagi yang pengusaha, “Anda dapat memperoleh banyak keuntungan, anda bisa jadi milyarder, ato trilioner jika berdagang di sana, tapi anda memilih bertahan di usaha anda sekarang, tak heran jika anda masih begitu-begitu saja.”

Adakah rasa penyesalan bagi anda?
Continue reading “Satu Menit yang Berharga”