Belajar manajemen transportasi di Taiwan

Beberapa hari yang lalu, saya dilandah gundah, perihal mendapatkan surat cinta dari DMV (directorate motor vehicle), semacam dirjen perhubungan, tentang nasib si Sakib. Berhubung dianya sudah melewati masa puber, artinya dia harus menjalani cek alat pencernaan secara rutin ke bengkel terdekat. Di Taiwan sini, motor yang sudah berumur sekian tahun, harus rajin diuji apakah dia masih layak jalan di jalanan umum berdasarkan uji emisi pembakaran hidrokarbon yang dikonsumsi ketika membawa keluarga kecil kami belanja atau untuk mengantar saya berangkat bekerja. Peraturannya sederhana, jika emisi kurang dari sekian ppm sisa pembakaran, maka dia lulus dan layak jalan untuk setahun ke depan. jika tidak, maka dia harus saya relakan menghadap sang Eksekutor. Saya sempat gundah, mengingat tahun lalu hampir saja dia tidak terselamatkan, bahkan oleh Ali (imam masjid), saya sudah disarankan untuk ganti tunggangan baru, alhamdulillah sampai hari ini masih hidup dengan layak :).

Mungkin kita bisa menduga, karena Taiwan negara kecil, tentunya mereka harus membatasi jumlah kendaraan yang beredar di jalan raya untuk mengatasi kemacetan. Jika kita melihat kemacetan yang luar biasa melanda kota-kota besar di Indonesia, dan membandingkan dengan kelancaran lalulintas yang ada di Taiwan bisa jadi kita berfikir, wajar jika taiwan tidak macet, karena jumlah kendaraan mereka tidak sebanyak di Indonesia. Cara berfikir demikian, separuhnya benar, iya jika kita hanya menghitung kuantitas kendaraan aktif yang beredar di jalan raya. Akan tetapi, jika kita bandingkan rasio jumlah kendaraan per jumlah penduduk suatu negara, maka kita akan tercengang bahwa jumlah kendaraan yang ada di Taiwan ternyata lebih banyak rasio nya daripada negeri kita. baca di sini : http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_vehicles_per_capita peringkat taiwan ada di 52, sementara Indonesia di peringkat 125 :o.
Lantas apa yang membuat mereka mampu mengurai kemacetan atau setidaknya memiliki lalu lintas yang relatif sangat lancar dibanding kota-kota besar di Indonesia? ada banyak faktor, tentunya tidak hanya sesederhana hemat berfikir para anti kapitalis, yang mengatakan transportasi umum mereka sangat bagus sementara kendaraan pribadi mahal harganya sehingga orang-orang lebih memilih menggunakan kendaraan umum daripada kendaraan pribadi. Well, mungkin benar untuk kasus Singapura, tapi setahu saya di negara-negara maju seperti Taiwan, harga mobil relatif terjangkau, walaupun dengan pajak yang juga besar, tapi masih sangat terjangkau bagi orang kebanyakan, maka tidak heran jika jumlah kendaraan per kapita mereka begitu besar.
Kembali ke persoalan utama, lantas apa yang bisa kita pelajari dari mereka?
menurut pengamatan saya yang awam ini, setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari mereka:
1. Transportasi publik nyaman dan sangat memadai, lebih jauh lagi, di sini transportasi sangat menghargai waktu, tidak ada istilah mengejar setoran atau suka mengetem untuk menunggu penumpang. mulai dari bus dalam dan antar kota yang bersih, nyaman dan tepat waktu, sampai Mass Rapit Transit atau MRT yang begitu cepat dan teratur. Saya pernah naik busway di jakarta, awalnya sempat merasa nyaman, karena masih di stasiun awal, setelah jalan beberapa kilo, saya merasa seperti pepes ikan teri karena saking padatnya penumpang. selain itu, persoalan kendaraan pribadi yang menggunakan jalur busway juga cukup pelik, anehnya ada usulan dari gubernur yang mau memberlakukan tarif masuk busway. 😦
2. walaupun jumlah kendaraan pribadi yang begitu besar, namun jalan raya di sini sangat banyak, panjang dan lebar, serta menggurita. beda dengan negeri kita yang kebanyakan penghubung antar kota hanya 1 jalan arteri. jika ada bencana alam, atau terjadi kecelakaan, macet berkilo-kilo meter sudah menjadi pemandangan lumrah. 😦
3. Tata kelola kota yang tidak terpusat. jika point satu dan dua terlihat hanya karena masalah keterbatasan dana, maka tata kelola kota tidaklah mudah diatasi tanpa planning yang jelas dari pola pembangunan kota. di sini saya hampir tidak mengenal istilah ‘Kota satelit’ sebagai buffer kota besar. tiap kota di sini memiliki roda perekonomian masing-masing, sehingga tidak semua orang tinggal atau bekerja di kota besar seperti Taipei. saya sendiri tinggal di Zhongli, walaupun cukup dekat dengan Taipei (hanya 1 jam perjalanan), saya jarang pergi ke Taipei karena alasan membeli barang yang tidak bisa saya beli di Zhongli. Jika semua kota memiliki karakter seperti ini, tentunya kita tidak perlu melihat kemacetan di pintu masuk kota-kota besar di Indonesia.
Ah, itu hanya pengamatan saya yang awam, rasanya seperti mimpi jika berharap Indonesia bisa mencontoh kebijakan-kebijakan demikian. Apalagi di tengah carut-marut politik dan kebijakan-kebijakan yang penuh pencitraan. Banyak di antara kita yang bilang, ini semua buah demokrasi dan kapitalisme sehingga negeri kita seperti sekarang. dan saya sangat setuju dengan hal tersebut, hanya saja, jika langsung melompat ke cara berpikir demikian, akan sangat mudah dipatahkan dengan memberi contoh negara maju, yang ‘sukses’ dengan demokrasi dan kapitalismenya. wallahua’lam.
by the way, kembali ke masalah si Sakib, alhamdulillah dia masih lolos uji emisi, berarti masih bisa diajak jalan untuk satu tahun ke depan. Saya pun sempat kepikiran, di indonesia juga tentunya memiliki kebijakan yang sama, tapi kenapa kendaraan tua dan penuh asap masih bisa jalan? tanya kenapa :d?

2015-02-02 19.05.00
Surat Cinta

2015-02-02 20.55.59
Uji Emisi

2015-01-01 11.17.58
Contoh jadwal bus

2015-01-17 13.28.44
Nuasa jalan di Taipei

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s