Konservasi Lingkungan, Sedikit Pelajaran dari Malaysia

Pernah lihat burung Rangkong? atau ga tau apa itu burung Rangkong? hm… waktu SD dulu sempat tau tentang burung yang katanya langka dan dilindungi itu. kalau mau lihat, paling baru bisa di Kebun Binatang Surabaya. Berharap bertemu burung langka di alam liar? mungkin cuma mimpi anak-anak yang pengen tau seperti apa indahnya burung yang diceritakan di buku-buku ato ensiklopedi. Jangankan burung ‘langka’ dan ‘dilindungi’ burung-burung liar saja sudah banyak ditangkap, kalau tidak berakhir di pasar burung, ya berakhir di meja makan.

DSCN6341_resize

Masih teringat ketika kecil dulu, di sekitar rumah banyak sekali burung-burung liar semacam kutilang, terucuk, cendet dll. Bagi anak jaman sekarang istilah tersebut mungkin agak asing, mengingat burung-burung tersebut sudah sukar ditemukan di alam bebas. Rata-rata burung tersebut baru bisa ditemukan di pasar burung, karena kesukaan orang terhadap suara kicauan mereka. Beberapa waktu lalu, ada berita bahwa jalak Bali di alam bebas, sudah ada di ambang kepunahan, sampai-sampai 25 ekor jalak diterbangkan dari pusat konservasi di Yokohama Jepang untuk dikembalikan ke habitat asli. Saya jadi heran, lah ini orang Jepang yang peduli dengan Jalak Bali.

Mengenai judul, sedikit pengalaman ketika turun dari masjid setelah subuh di Malaysia, saya jalan-jalan untuk mengisi perut yang dari semalam belum terisi. sambil pengen tau masakan warung di sekitar penginapan. tidak begitu jauh, menemukan kios / lapak penjual nasi. di sini menyebut nasinya dengan sebutan ‘nasi lemak’, kalo di Indo, lebih sering disebut dengan ‘Nasi Kucing’, buat mahasiswa, pasti tau betul :). Pas menunggu ibu2nya membungkus nasi, saya tertarik dengan suara berisik di sekitar sana. awalnya saya kira di dekat situ ada peternakan burung, ternyata di atas pohon tempat berjualan nasi, ada banyak sekali burung. saya tidak bisa menghitung, mengingat kondisi masih gelap bakda subuh, yang jelas dari suaranya, ada puluhan, ato ratusan. Pas keliling-keliling, saya juga banyak menemukan burung liar bebas terbang di pinggir jalan. hmm… coba di indo, kira2 seperti apa nasib burung tersebut.

DSCN6340_resize

burung rangkong, di pinggir jalan, waktu itu ada beberapa burung yang hinggap di pohon

DSCN6325_resize

burung anonim, di belakang penginapan

Keselarasan antara manusia dan alam memang sangat diperlukan, setidaknya di negara-negara maju, hal itu dapat disaksikan. di mana pembangunan dan keseimbangan alam dapat berjalan beriringan. memang bukan hanya masalah kesadaran individu, tidak pula hanya peraturan dari pemerintah, tapi semua saling berkaitan. Di indonesia seingat saya ada undang2 konservasi, tapi pada praktiknya hewan-hewan langka masih banyak dicuri. lain halnya jika masyarakatnya sudah mampu secara ekonomi, perdagangan gelap dibatasi, dan masyarakat sadar sejak dini, jadilah alam kita menjadi alam yang lestari. di mana binatang2 tersebut tidak perlu mendapat gelar ‘langka’ dan dilindungi untuk bisa menjaga keberlangsungan hidupnya.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s